Posted by: Pasukan Badar | January 24, 2008

Aktivis (jangan) Kalah Sebelum Perang

pejuangKaum muslimin dengan pasukan minim dan persiapan seadanya, ternyata meraih kemenangan di Perang Badar. Di Perang Hunain, pasukan kaum muslimin berjumlah banyak. Secara logika, pasti menang, apatah lagi dengan label sebagai “pejuang al haq”. Namun ternyata di Perang Hunain, pasukan kaum muslimin hampir mengalami kekalahan. Strategi apa yang salah? Ikhtiar apa yang kurang? Ternyata kekalahan itu terjadi bukan karena kurangnya ikhtiar, bukan karena kurangnya perlengkapan senjata, tetapi karena ada maksiat yang dibawa saat perang, yang tersembunyi di dalam dada sebagian besar tentara kaum muslimin. Kemaksiatan yang halus, yang hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahuinya. Yaitu congkak! “…..dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun….” (QS. At Taubah : 25-26). Tentara muslim yang banyak jumlahnya itupun lari ke belakang dengan bercerai berai.

Di sebuah peperangan melawan kaum kuffar, kaum muslimin beberapa kali mengalami kekalahan. Sang qiyadah segera memuhasabahi pasukannya, mengapa kekalahan demi kekalahan bisa terjadi ? Sang qiyadah memeriksa jundi-jundinya. Tak ada yang kurang. Semua perlengkapan lengkap, pun ibadah-ibadah dilakukan dengan baik. Namun saat pagi menjelang, sang qiyadah mengamati pasukannya dan baru menyadari bahwa ternyata pasukannya melupakan satu sunah Rasul, yaitu menggosok gigi! Qiyadah segera memerintahkan menggosok gigi dengan siwak (sejenis kayu) kepada seluruh jundinya. Pasukan pengintai dari pihak musuh menjadi takut karena melihat para tentara muslim tengah menggosok-gosok giginya dengan kayu, dan mengira pasukan kaum muslimin tengah menajamkan gigi-giginya untuk menyerang musuh. Pihak musuh menjadi gentar dan segera menarik mundur pasukannya.

Esensi Peperangan
Kisah di atas adalah jihad fii sabilillah yang diwujudkan dengan peperangan secara fisik. Di masa kini, siapa bilang peperangan itu telah berakhir ? Tidak. Peperangan itu tidak akan pernah berakhir hingga hari kiamat. Karena hakekatnya, ini adalah peperangan abadi antara yang Haq dan yang Bathil. Kami datang dengan pasukan yang mencintai kematian sebagaimana kalian, orang-orang kafir, mencintai kehidupan. Namun tentu saja, jihad tidak selalu identik dengan perang dan pedang.

Kemenangan tidaklah diturunkan Allah dengan begitu saja, tetapi melalui tarbiyah dari Allah swt hingga orang-orang beriman siap menerima kemenangan, di saat yang tepat. Jangan pernah menyalahkan musuh, tetapi salahkan diri sendiri mengapa bisa memperoleh kekalahan. Apa yang salah dalam taqarrub kita kepada Allah swt ?

Seperti syetan yang bertemu seorang alim… Tak perlu si orang alim itu sampai mengeluarkan “jurus-jurus” ayat Qur’annya, tetapi cukup dengan melihat orang alim itu saja sudah membuat syetan-syetan takut dan menyingkir, melapangkan baginya jalannya. Umar bin Khattab, yang dengan pancaran keimanannya, sampai diibaratkan Rasulullah saw dapat membuat syetan-syetan menyingkir dan memilih jalan lain bila bertemu Umar di jalan. Pun seperti Imam Ahmad, yang dengan ketaatannya kepada Allah swt, membuat syetan menjadi takut hanya karena melihat sandal jepit Imam Ahmad. Bukankah syetan itu dari golongan jin dan… manusia ?

Jika “hanya” karena congkak saja Allah Ta’ala mencabut pertolongannya dari kaum muslimin, maka apatah lagi jika congkak itu dihiasi riya, iri, dengki, dan sum’ah. Jika “hanya” karena tidak melaksanakan satu sunah Rasul saja Allah Ta’ala tak lagi menjadi penolong bagi kaum muslimin, maka apatah lagi jika sampai ada sunah utama yang ditinggalkan, seperti shalat malam, misalnya. Jika orang yang berjalan di muka bumi dengan sombong “hanya” karena panjangnya pakaian akan dimurkai Allah Ta’ala, maka apatah lagi dengan muslim yang merasa lebih tinggi harakahnya dari muslim yang lain.

Bahkan meski kemenangan sudah tercapai sekalipun, seorang muslim tetap harus banyak beristighfar. “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat. “ (QS. An Nashr : 1- 3)

Lalu, apa jadinya jika kaum muslimin tidak hanya meninggalkan sunah, tetapi juga terkena penyakit cinta dunia dan takut mati ? Maka Allah SWT bukannya menanamkan rasa takut kepada musuh, namun sebaliknya, Allah SWT akan mencabut rasa takut dari musuh-musuh kita. Sungguh benar sabda Rasulullah SAW, “Hampir datang masanya ummat-ummat akan menyerbu kaum Muslimin sebagaimana orang lapar menyerbu makanan di atas piring mereka.” Para sahabat bertanya, ”Apakah jumlah kita waktu itu sedikit ya Rasulullah ? “Beliau bersabda, ”Tidak, bahkan jumlah kalian banyak tetapi bagaikan buih di lautan. Penyebab semua itu adalah penyakit Wahn. ”Para sahabat bertanya, ”Apa Wahn itu ya Rasulullah ?” Beliau bersabda, “Cinta kalian akan hidup dan benci (takut) kematian (pent: dan menurut riwayat Abu Daud “dan bencimu terhadap perang.” ). Allah melemparkan ke dalam hatimu Wahn dan mencabut rasa takut dari hati musuh-musuhmu.”

Kekalahan
Di saat kekalahan demi kekalahan terjadi di berbagai bidang, mungkin para aktivis Islam wajib melakukan taubat akan maksiat yang terlihat maupun yang tersembunyi. Banyak beristighfar menyebut nama-Nya. Virus-virus ukhuwah seperti ghibah, suudzon, namimah, yang menjangkiti adalah termasuk bagian yang membawa da’wah menjadi tidak berkah.

Strategi itu penting, namun kondisi ruhiyah dan kedekatan pada Allah swt, jauh lebih penting.
Apa yang membuat Allah Ta’ala mau “melirikkan matanya” pada barisan da’wah ini. Mengetuk pintu illahi. Karena bagaimana akan memenangkan peperangan al haq VS al bathil jika pembawa panji Al Haq itu sendiri menyalahi aturan Al Haq. Orang yang bermaksiat tidak akan ditolong-Nya.

Seorang pakar Eropa bertanya, “Bagaimana mungkin kaum Muslimin dapat memenangkan musuh-musuh mereka dari Parsi dan Rum yang jumlahnya banyak, sedangkan kaum muslimin berjumlah sedikit ?” Dan dijawab, “Hal itu di sebabkan mereka (kaum Muslimin) itu jujur, bertakwa kepada-Nya, karena itulah di manapun dia berada pasti akan di lindungi-Nya…”

Membersihkan atau menyeleksi barisan da’wah dari orang-orang yang bermaksiat agar tidak menjadi beban dalam gerak pasukan muslim. Maka orang-orang di barisan tersebut tak pelu marah atau tersinggung bila ditegur dan dinasehati saudaranya. Pun tak perlu merasa terbebani dengan banyaknya lembar mutabaah atau seringnya syuro evaluasi kader.

Bersiap siaga
Bersiap siaga menjaga masing-masing benteng. Ada yang bertugas menjaga ruhiyah kader, ada yang menyebarkan nilai-nilai Islam dan ada yang bertugas mencapai titik-titik stategis agar dapat memayungi para pejuang kebenaran dengan lembaga formal. Semua tugas, sama pentingnya dan jangan sampai ada benteng yang kosong atau kebobolan. Semuanya bersinergi untuk mencapai satu tujuan, yaitu tegaknya kalimah tauhid di muka bumi. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya secara tertib (shaf yang rapi), mereka itu bagaikan bangunan yang berdiri kokoh.” (QS. Ash Shaff : 4)

Jika saja ada satu orang kader yang sabar, maka niscaya ia akan memiliki kekuatan mengangkat beban da’wah, sepuluh kali lipat. Maka tak perlu heran jika kita menyaksikan ada kader yang memiliki beberapa amanah. Tidak hanya amanah single atau double, tetapi sudah kuartet! “Hai Nabi kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika terdapat sepuluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka akan mampu mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada 100 orang (yang sabar) di antara kamu, mereka akan mengalahkan seribu orang-orang kafir, di sebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al Anfal : 65).

Penutup
Maksiat akan menjadi beban berat bagi tercapainya kemenangan da’wah. Apatah lagi jika kemaksiatan itu dilakukan oleh seorang qiyadah. Senjata kaum muslimin dalam peperangan Al Haq VS Al Bathil adalah dengan berteguh hati, banyak berdoa, berzikir dan tawakkal. Kita tak akan sanggup memenangkan Al Haq jika tak membawa senjata-senjata itu karena Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan musuh, maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya (dzikir, doa dan tawakkal) agar kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al Anfal : 45). [ayat al akrash].


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: